MENENGOK PENINGGALAN SEJARAH DI BENGKULU



Bengkulu merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Provinsi ini berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat. Perjalanan Study Banding membuat saya mengetahui bahwa banyak peninggalan sejarah yang tertampung diprovinsi ini. Bengkulu yang berjuluk bumi Raflesia atau sekarang disebut dengan bumi Merah Putih ini memang memiliki beberapa objek wisata alam dan objek wisata sejarah, mulai dari Pantai Panjang sampai objek wisata sejarah yang berkaitan dengan kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti rumah pengasingan Soekarno hingga dipenjara dan ada juga Benteng Fort Marlborough yang tak jauh terletak dikotanya.
Dimulai dari benteng Fort Marlborough, benteng fort Marlborough adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1714-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Benteng ini didirikan diatas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi Samudera Hindia.
Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945 dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu menjadi markas Polri. Namun, pada tahun 1949-1950 benteng Fort Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.
Disana juga ada rumah pengasingan Soekarno, rumah ini terletak di tengah kota Bengkulu, tepatnya di jalan Soekarno Hatta kelurahan Anggut Atas kecamatan Gading Cempaka. Awalnya rumah tersebut adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Soekarno selama diasingkan di Bengkulu. Soekarno diasingkan selam 1938-1942. Dirumah ini terdapat peninggalan-peninggalan Soekarno, diantaranya ada ranjang besi yang pernah dipakai Soekarno dan keluarganya, koleksi buku yang mayoritas berbahasa Belanda serta seragam group tonil Monte Carlo asuhan Soekarno semasa di Bengkulu. Ada juga foto-foto Soekarno dan keluarganya yang menghiasi hampir seluruh ruangan dan tidak kalah menarik adalah sepeda tua yang dipakai Soekarno selama di Bengkulu. 


Chintia Arnita (1730303006)  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Dia Keju Lasi Wisata Edukasi Pertama Di Sumatera Barat

Boyan kaliang di pasar malam payakumbuh miring, petugas segera evakuasi pengunjung

Perencanaan Peserta Didik pada Masa Pandemi