Ardy: dari petani untuk calon sarjana jurnalis
Ardy: Dari Petani Untuk Calon Sarjana Jurnalis
Kesadaran bahwa pendidikan begitu penting bagi adiknya dan kewajiban menuntut ilmu menjadi penyemangat bagi Ardy untuk memperjuangkan keinginan adiknya menjadi calon sarjana Jurnalis. Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak perduli berapa besar biaya yang ia keluarkan demi membiayai kuliah adiknya.
Sejak tahun 2017, adiknya mulai duduk dibangku perkuliahan. Bermodalkan hasil ladang yang didapatkan ketika musim panen lalu yang hasilnya dibagi dengan pemiliki ladang, meskipun begitu ia mampu memasok kebutuhan biaya yang harus dibayarnya. Mulai dari pembayaran SPP jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Konsentrasi Jurnalistik yang agak mahal, semua pembayaran di kampus hingga pembayaran uang kos.
Ardy adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Harau, Kab. 50 Kota. Umurnya sudah mencapai 30 tahun dan belum menikah, tapi tak menghalangi niat baik adiknya untuk menuntut ilmu. Dia tak pernah bosan menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak tamat dari bangku Madrasah Aliyah Negeri. Mulai berangkat ke ladang sebelum matahari terbit di ufuk timur, kemudian pulang untuk sholat zuhur dan kembali lagi ke ladang sampai sebelum matahari tenggelam di ufuk barat.
“begitulah rutinitas saya setiap hari, kami tak menyebutnya ke ladang melainkan ke kantor. Bukan hanya orang kota saja yang ke kantor, petani seperti saya juga ke kantor, yaitunya ladang”, ucapnya dengan sedikit tawa.
Anak keempat dari lima bersaudara ini tak ingin nasib adiknya berakhir seperti dirinya yang hanya bisa tamatan Madrasah Aliyah Negeri lantaran keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Ia memang lahir dari keluarga miskin pasangan petani Dasril (alm) dan Mismarni. Semua pekerjaan ia lakoni demi menutupi biaya hidupnya, adik serta ibunya yang telah menjanda sejak dua tahun terkahir. Mulai menjadi petani, tukang bajak sawah dan jadi buruh pencetak batu bata.
Jika petani lain akan kaya dengan hasil panennya ketika waktu panen tiba, tidak dengan petani satu ini. Pekerjaan yang dilakoninya sebagai buruh cetak batu bata menuntutnya untuk berhutang demi pembayaran kuliah adiknya. Dia harus mengangkut batu bata yang telah kering ke tempat pemangganngan (tungku), satu persatu batu bata diletakkan di atas gerobak kayu dan diangkut ke tungku (tempat pemanggangan). Kemudian disusunnya dengan rapi tumpukan batu bata itu untuk selanjutnya di panggang kurang lebih satu minggu menggunakan kulit padi. Akan tetapi, tak jarang juga ia mengalami luka lebam akibat terjepit diantara batu bata.
Baginya tak gampang menjadi petani. Ia harus mampu memutar otak agar hasil panen ladang bisa mencukupi semua kebutuhan hidup. Meskipun hasil panen terlihat banyak, tetapi sebenarnya keuntungan yang didapatnya tak sebanding dengan modal yang digunakan untuk menanami kembali ladang dan perawatannya karena harus dibagi dua dengan pemilik ladang.
Meskipun ia hanya seorang petani, tetapi dia begitu mengerti akan pentingnya pendidikan bagi adiknya. Ia paham bahwa perkembangan dunia tidak dapat dipungkiri akan bertambah maju. Jika adiknya tidak mengenyam pendidikan, maka akan jauh tertinggal dibelakang. Ini semua dilakukannya lantaran ia ingin mewujudkan impian sang Ayah untuk menyekolah anaknya ke tingkat yang lebih tinggi dan adiknya pun mempunyai ambisi yang kuat untuk kuliah.
Kalau orang di desanya memilih untuk mencukupkan pendidikan anaknya atau adiknya sampai bangku menengah atas, tidak dengan Edi, sapaan akrabnya. Edi begitu miris melihat realitas apa yang terjadi di desanya. Padahal menurutnya jika dilihat dari sisi ekonomi, mereka lebih mampu bahkan berlebih jika mau menyekolahkan anak-anaknya atau adik-adiknya sampai perguruan tinggi.
Sedikit bercerita tentang keadaan kampungnya, Edi mengatakan bahwa dari ratusan anak muda di desa, bisa dihitung dengan jari yang mau meneruskan pendidikannya dan tau arti pentingnya menuntut ilmu. Sebagian dari orang tua masih belum mengerti akan pentingnya menuntut ilmu, begitu juga dengan anak-anaknya. Yang terlintas dipikiran masyarakat hanya bagaimana mendapatkan pekerjaan bermodalkan ijazah SMA. Bahkan masyarakat sudah pesimis terlebih dahulu tidak akan mampu menyelesaikan administrasi pembayaran selama kuliah. “padahal kalau mereka niat dan mau pasti akan dipermudah jalannya oleh Allah swt., rezeki sudah ada yang mengatur, apalagi buat pendidikan ada saja rezeki yang datang ketika tiba waktu pembayaran”. Ujarnya dengan yakin.
Edi begitu bersyukur dengan adiknya yang mengerti akan pentingnya pendidikan. Ia hanya perlu mendukung dan mendoakan. Sosok yang pantang menyerah ini, tak ingin apa yang ia alami, dialami pula oleh adiknya. Ia berusaha sekuat tenaga bahkan rela mengorbankan apapun demi adiknya. Satu hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana mencari rezeki yang barokah untuk membiayai adik yang kuliah dan ibunya yang sudah mulai menua. Tak peduli bagaimana keadaan tembok rumah yang mulai mengelupas, tak peduli atap rumah yang mulai usang dan berkarat. Baginya kalau semua masih bisa digunakan, ia tidak akan mengganti dengan yang baru.
Menurutnya, menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya itu penting. Orang yang berilmu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat akan mempunyai derajat tersendiri. Tak mau kalah dengan adiknya, ia juga menuntut ilmu dengan caranya sendiri. Anak dari Mismarni ini secara rutin membaca tafsiran ayat demi ayat yang terdapat di Al Quran untuk mendamaikan hati dan pikirannya. Dengan begitu, berarti ia sudah menambahkan sedikit ilmu ke memory yang dipunyainya untuk diamalkan suatu saat nanti ketika ia berumah tangga nantinya.
Ardy sebagai sosok kakak sekaligus kepala keluarga tak memaksakan adiknya untuk mengikuti kehendaknya dalam menentukan masa depan. Ia percayakah semua masa depan kepada adiknya. Karena menurutnya, yang akan menjalani kehidupan itu adiknya bukan dirinya, ia hanya perlu mengarahkan serta mendoakan apa yang dilakukan adiknya untuk meraih masa depan yang diinginkan.
Termasuk pilihan yang dijalankan adik bungsu-nya yang memilih untuk menggeluti dunia jurnalistik. Sebenarnya edi kurang setuju dengan pilihan adiknya, akan tetapi ia sadar bahwa bidang itu yang diminati adik bungsu sibiran tulangnya. Baginya menjadi seorang jurnalis itu cukup berat, seorang jurnalis harus lari kesana kemari mengejar narasumber untuk mendapatkan informasi. Seorang jurnalis harus dituntut untuk hidup dibawah tekanan garis kematian. Seorang jurnalis tentu bakal menghabiskan waktunya untuk terjun di lapangan dengan resiko kematian yang mengancam kapanpun, apalagi kalau misalkan nantinya akan ditugaskan di daerah konflik.
“Sebenarnya saya lebih setuju kelak adik saya menjadi seorang guru lantaran ia seorang perempuan,” ucap pria pantang menyerah ini. Namun, ia sadar tak mungkin ia memaksakan kehendaknya. Ia begitu menyayangi adik bungsunya dengan caranya sendiri. Sosok kakak sekaligus tulang punggung keluarga yang satu ini membiarkan adiknya untuk menempuh jalan kesuksesannya sendiri. Entah apa yang bakal dilakukan adiknya, asalkan itu pekerjaan yang halal dengan sepenuh hati keluarga akan mendukung dan senantiasa mendoakan. Kita tak akan tau apa yang akan terjadi dimasa depan, yang terpenting sekarang kita berusaha dan berdoa. Semua sudah ada yang menentukan,” lontar Edi dengan yakin dan mantap.
Mengakhiri ceritanya, sebagai kaka ia berharap dimanapun adiknya berada, kelak adiknya mampu mengamalkan ilmu yang diperolehnya saat ini untuk turut memajukan bangsa dan Negara. Ia berharap kelak adiknya akan bermanfaat bagi masyarakat. Sebab ia percaya bahwa sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Kesadaran bahwa pendidikan begitu penting bagi adiknya dan kewajiban menuntut ilmu menjadi penyemangat bagi Ardy untuk memperjuangkan keinginan adiknya menjadi calon sarjana Jurnalis. Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak perduli berapa besar biaya yang ia keluarkan demi membiayai kuliah adiknya.
Sejak tahun 2017, adiknya mulai duduk dibangku perkuliahan. Bermodalkan hasil ladang yang didapatkan ketika musim panen lalu yang hasilnya dibagi dengan pemiliki ladang, meskipun begitu ia mampu memasok kebutuhan biaya yang harus dibayarnya. Mulai dari pembayaran SPP jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Konsentrasi Jurnalistik yang agak mahal, semua pembayaran di kampus hingga pembayaran uang kos.
Ardy adalah seorang petani di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Harau, Kab. 50 Kota. Umurnya sudah mencapai 30 tahun dan belum menikah, tapi tak menghalangi niat baik adiknya untuk menuntut ilmu. Dia tak pernah bosan menjalankan rutinitas yang sudah lama ia lakoni sejak tamat dari bangku Madrasah Aliyah Negeri. Mulai berangkat ke ladang sebelum matahari terbit di ufuk timur, kemudian pulang untuk sholat zuhur dan kembali lagi ke ladang sampai sebelum matahari tenggelam di ufuk barat.
“begitulah rutinitas saya setiap hari, kami tak menyebutnya ke ladang melainkan ke kantor. Bukan hanya orang kota saja yang ke kantor, petani seperti saya juga ke kantor, yaitunya ladang”, ucapnya dengan sedikit tawa.
Anak keempat dari lima bersaudara ini tak ingin nasib adiknya berakhir seperti dirinya yang hanya bisa tamatan Madrasah Aliyah Negeri lantaran keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Ia memang lahir dari keluarga miskin pasangan petani Dasril (alm) dan Mismarni. Semua pekerjaan ia lakoni demi menutupi biaya hidupnya, adik serta ibunya yang telah menjanda sejak dua tahun terkahir. Mulai menjadi petani, tukang bajak sawah dan jadi buruh pencetak batu bata.
Jika petani lain akan kaya dengan hasil panennya ketika waktu panen tiba, tidak dengan petani satu ini. Pekerjaan yang dilakoninya sebagai buruh cetak batu bata menuntutnya untuk berhutang demi pembayaran kuliah adiknya. Dia harus mengangkut batu bata yang telah kering ke tempat pemangganngan (tungku), satu persatu batu bata diletakkan di atas gerobak kayu dan diangkut ke tungku (tempat pemanggangan). Kemudian disusunnya dengan rapi tumpukan batu bata itu untuk selanjutnya di panggang kurang lebih satu minggu menggunakan kulit padi. Akan tetapi, tak jarang juga ia mengalami luka lebam akibat terjepit diantara batu bata.
Baginya tak gampang menjadi petani. Ia harus mampu memutar otak agar hasil panen ladang bisa mencukupi semua kebutuhan hidup. Meskipun hasil panen terlihat banyak, tetapi sebenarnya keuntungan yang didapatnya tak sebanding dengan modal yang digunakan untuk menanami kembali ladang dan perawatannya karena harus dibagi dua dengan pemilik ladang.
Meskipun ia hanya seorang petani, tetapi dia begitu mengerti akan pentingnya pendidikan bagi adiknya. Ia paham bahwa perkembangan dunia tidak dapat dipungkiri akan bertambah maju. Jika adiknya tidak mengenyam pendidikan, maka akan jauh tertinggal dibelakang. Ini semua dilakukannya lantaran ia ingin mewujudkan impian sang Ayah untuk menyekolah anaknya ke tingkat yang lebih tinggi dan adiknya pun mempunyai ambisi yang kuat untuk kuliah.
Kalau orang di desanya memilih untuk mencukupkan pendidikan anaknya atau adiknya sampai bangku menengah atas, tidak dengan Edi, sapaan akrabnya. Edi begitu miris melihat realitas apa yang terjadi di desanya. Padahal menurutnya jika dilihat dari sisi ekonomi, mereka lebih mampu bahkan berlebih jika mau menyekolahkan anak-anaknya atau adik-adiknya sampai perguruan tinggi.
Sedikit bercerita tentang keadaan kampungnya, Edi mengatakan bahwa dari ratusan anak muda di desa, bisa dihitung dengan jari yang mau meneruskan pendidikannya dan tau arti pentingnya menuntut ilmu. Sebagian dari orang tua masih belum mengerti akan pentingnya menuntut ilmu, begitu juga dengan anak-anaknya. Yang terlintas dipikiran masyarakat hanya bagaimana mendapatkan pekerjaan bermodalkan ijazah SMA. Bahkan masyarakat sudah pesimis terlebih dahulu tidak akan mampu menyelesaikan administrasi pembayaran selama kuliah. “padahal kalau mereka niat dan mau pasti akan dipermudah jalannya oleh Allah swt., rezeki sudah ada yang mengatur, apalagi buat pendidikan ada saja rezeki yang datang ketika tiba waktu pembayaran”. Ujarnya dengan yakin.
Edi begitu bersyukur dengan adiknya yang mengerti akan pentingnya pendidikan. Ia hanya perlu mendukung dan mendoakan. Sosok yang pantang menyerah ini, tak ingin apa yang ia alami, dialami pula oleh adiknya. Ia berusaha sekuat tenaga bahkan rela mengorbankan apapun demi adiknya. Satu hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana mencari rezeki yang barokah untuk membiayai adik yang kuliah dan ibunya yang sudah mulai menua. Tak peduli bagaimana keadaan tembok rumah yang mulai mengelupas, tak peduli atap rumah yang mulai usang dan berkarat. Baginya kalau semua masih bisa digunakan, ia tidak akan mengganti dengan yang baru.
Menurutnya, menuntut ilmu sampai setinggi-tingginya itu penting. Orang yang berilmu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat akan mempunyai derajat tersendiri. Tak mau kalah dengan adiknya, ia juga menuntut ilmu dengan caranya sendiri. Anak dari Mismarni ini secara rutin membaca tafsiran ayat demi ayat yang terdapat di Al Quran untuk mendamaikan hati dan pikirannya. Dengan begitu, berarti ia sudah menambahkan sedikit ilmu ke memory yang dipunyainya untuk diamalkan suatu saat nanti ketika ia berumah tangga nantinya.
Ardy sebagai sosok kakak sekaligus kepala keluarga tak memaksakan adiknya untuk mengikuti kehendaknya dalam menentukan masa depan. Ia percayakah semua masa depan kepada adiknya. Karena menurutnya, yang akan menjalani kehidupan itu adiknya bukan dirinya, ia hanya perlu mengarahkan serta mendoakan apa yang dilakukan adiknya untuk meraih masa depan yang diinginkan.
Termasuk pilihan yang dijalankan adik bungsu-nya yang memilih untuk menggeluti dunia jurnalistik. Sebenarnya edi kurang setuju dengan pilihan adiknya, akan tetapi ia sadar bahwa bidang itu yang diminati adik bungsu sibiran tulangnya. Baginya menjadi seorang jurnalis itu cukup berat, seorang jurnalis harus lari kesana kemari mengejar narasumber untuk mendapatkan informasi. Seorang jurnalis harus dituntut untuk hidup dibawah tekanan garis kematian. Seorang jurnalis tentu bakal menghabiskan waktunya untuk terjun di lapangan dengan resiko kematian yang mengancam kapanpun, apalagi kalau misalkan nantinya akan ditugaskan di daerah konflik.
“Sebenarnya saya lebih setuju kelak adik saya menjadi seorang guru lantaran ia seorang perempuan,” ucap pria pantang menyerah ini. Namun, ia sadar tak mungkin ia memaksakan kehendaknya. Ia begitu menyayangi adik bungsunya dengan caranya sendiri. Sosok kakak sekaligus tulang punggung keluarga yang satu ini membiarkan adiknya untuk menempuh jalan kesuksesannya sendiri. Entah apa yang bakal dilakukan adiknya, asalkan itu pekerjaan yang halal dengan sepenuh hati keluarga akan mendukung dan senantiasa mendoakan. Kita tak akan tau apa yang akan terjadi dimasa depan, yang terpenting sekarang kita berusaha dan berdoa. Semua sudah ada yang menentukan,” lontar Edi dengan yakin dan mantap.
Mengakhiri ceritanya, sebagai kaka ia berharap dimanapun adiknya berada, kelak adiknya mampu mengamalkan ilmu yang diperolehnya saat ini untuk turut memajukan bangsa dan Negara. Ia berharap kelak adiknya akan bermanfaat bagi masyarakat. Sebab ia percaya bahwa sebaik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar