Corona, karenamu semuamenjadi hambar


Corona, Karenamu Semua  Menjadi Hambar
Minggu ketiga sudah di laksanakan oleh pemerintah PSSB ( pembatasan  sosial berskala besar) semua perekonomian lumpuh, raut wajah ojek pengkolan kusut tidak ada lagi customer dan tidak tahu nanti mau makan apa, pedagang hanya termenung tidak ada pembeli,dan tempat aku berkerja tutup tidak ada lagi  pendapatan,  semenjak virus yang pertama kali muncul di  kota wuhan, China.hingga tersebar keseluruh Dunia, dan sampai di Indonesia dan program PSSB dari pemerintahpun di terapkan. Menyebar kapan badai ini akan  berlalu? Semua hanya di rahasia Tuhan, dan habis nya pun di tangan Tuhan.
Semakin hari semakin bertambah, positif corona semakin menjadi seperti ombak yang menghempas batu karang yang begitu cepat.Virus kecil kasat mata ini sangat rentan menyebar melalui udara dan sentuhan sesama manusia , bermacam cara di lakukan untuk memutus rantai penyebaran virus ,semua instalasi pemerintah bekerja sama, kesatuan Polri, Tni, Brimob, Dokter , Perawat tidak henti memberi penyuluhan kepada masyarakat terkait mencegah penyebaran Virus Corona, merekalah pahlawan dalam wabah ini. Demi kita mereka rela di jalanan di  bawah terik matahari, menahan haus  dan  lapar.
Selasa, 28 April 2020  puasa hari kelima bagi umat muslim , tidak ada lagi  dentuman  suara petasan di persimpangan jalan, tidak ada rombonggan demi rombongan yang melangkahkan kaki untuk  melaksanakan shalat tarawih, semua hanya diam  suasana menjadi dingin  seperti hari biasa yang kita lalui, tidak lagi lantunan ayat suci dari mikrofon mesjid, semua tampak berbebeda dari Ramadhan sebelumnya, ujar Imam.

Sinar matahari sudah di atas kepala, terik matahari dengan gagah memancarkan sinarnya  menyapa  semua manusia  dengan  seoalah tidak terjadi apa apa, Padang Panjang yang terkenal dengan kota hujan sudah kalah dengan matahari yang terlebih dulu senyum kepada kota ini,  semua aktifitas tampak sepi, jalanan yang dulu ramai sekarang hanya satu persatu yang melewati,dengan santai aku berjalan menuju pasar karena ibu menyuruh membeli sayuran, kulihat pedagang  pasar hanya melamun dengan posisi tangan yang disandarkan ke dagu dengan bibir yang kering dan ekpresi wajah yang  datar , baa lai nak samanjak virus corona ko , alah langang lapak kini, urang pado takuik kalua, nan biasonyo bulan puaso awak bajua bali rami kini alah langang. Ujar Ibuk Ija.
Semua hal ini serupa tamparan keras bagi Manusia, Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan  dibawah kemampuan manusia,  dengan musibah yang melanda negeri kita, bangsa kita , saudara kita, bukan pemerintah dan lembaga lembaga saja yang menjadi barisan depan dalam pandemi ini,  kita sebagai masyarakat sangat membantu dalam memutus rantai virus  ini, tetaplah di rumah , keluarlah jika ada kepentingan yang mendesak, dan bagi kita yang memiliki perekonomian lebih , saling tolong menolonglah kepada orang yang membutuhkan seperti pepatah minang “Barek samo di pikua ringan samo di jinjiang”( Zulqadri Sukino)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEINDAHAN GERABAH GALOGANDANG YANG MENDUNIA

Boyan kaliang di pasar malam payakumbuh miring, petugas segera evakuasi pengunjung

Ini Dia Keju Lasi Wisata Edukasi Pertama Di Sumatera Barat